Jumat, 16 Januari 2015

PANIROI10


Adong hata ni natuatua mandok,

"Parbue ni bosta,
na so marloak bota.
Naingot di hata
na so lupa di tona."
---
Asa hori ma baen doton,  hata ma si ingoton. Di Parpolitikon ma pakke defenisi ni politiki. Alana parpolitik nuaeng, boi do mangadis martabat, laho manuhor martabak. Jala molo dilehon na-Martua i parbinotoan, dang pola i pakkeon mu i mangalitoki  akka na samudar. Songon na hea hudok, molo pareman na tikkos, di luat na asing do ibana jago, jala dihabiari jolma. Dang di hutana. Napaduahon, jolma na umjorbut pangalahona, ima "namanangko dengke sian sisubanna."

Songon igiligil, "Dang boi dua pussu ni te. Sadado." Asing ma naung adong keputusan si Mahkamah Konstitusi."Unang nigulut nasosiguluton. Ikhon botoon do ila. Dang hea boi marganti "Pussu ni te." Alai sistem pengalihan tugas biasana sian ginjang tu toru. Katua Umum, tu Ketua-ketua, molo adong dope. Jala, hudok ma tuho, adong do TONA. Alai songon ni dok ni akka dongan. Alai dang sude pola Tona i pasahatsahaton. Nisigatan, dia ma naporlu patolhason, dia na ingkon lakkopan di bagasan ateate. Ala "Sala di sipata mandok na toho." Ido rasa asa adong sipasingot sian akka natuatua,

"Assimun sibolaon
tokka paboaboaon..."

Alana..."Ikhon pasangapon natoras...." Lapatanna, dang sai sude paboaon akka TONA. Manang boha pe, "Tampulon aek do namarsajabu." Jadi, sipata do denggan pasipon. Asing ma molo ro udan so hasaongan, dohot alogo sohapudian. Ido, asa sai ni jaga papangan, "unang ma jangan".

Ala, " Molo naung pinorsan, pinorsan ma..." manang boha pe, sai adong do gora sian natuatua, "pattang ni na unang". Alai asa botoonmu, ala partigatiga do au, "molo adong manggadis, rade do au manuhor..." Alai saribu hali marpikkir do au manuhor boniaga namambaen "segarusakna", ai manat do au diajar Damang dohot Dainang nahinan :

"Manat unang tartuktuk, dadap unang tarrobung." Jadi, antusi hata on, asa hipas natininggalhon dohot na nieahan. Sae manasae. Nasalpu i, ra boi panunungiranmu. Unang padirgakhu, jala unang pagakgakhu.

Horas. Horas. Horas.

Selamat menyongsong hari Minggu. Mambege jamita marsogot porlu do. Alai lobi umporlu ma mangulahonsa. Alana, halak Parise, jago do mambege dohot mambaritahon, alai namangulahon i do bakkol. Jadi marsiajar mahita mangulahon na tabegei.

Minggu, 04 Januari 2015

Ngalor-Ngidul
(edisi Pilbup)
----

BUDI PEKERTI DAN GENERASI PENERUS SAMOSIR

Kacang ijo melahirkan toge. Tetapi buah semangka tidak mungkin berdaun sirih. Kalau pun ada, itu hanya ada dalam lagunya Broery Pesolima Almarhum. Yang pasti, tikus akan melahirkan bagudung dan kerbau pastilah melahirkan horbo.

Ada memang pepatah, “Jonokdo tubis sian bonana”. Karenanya, “Begitu kelapanya, begitu juga minyaknya. Begitu ayahnya, begitu juga anaknya.

Benarkah?

Ternyata tidak selalu demikian. Dan memang, dalam hal apapun selalu bisa saja ada penyimpangan atau tidak sesuai dengan perkiraan.  Faktanya, ayah para Koruptor yang dijerat KPK saat ini,  bukanlah Koruptor. Bahkan, di antara mereka ada yang orang tuanya, Guru, Pendeta, Pejuang pemberantas kemiskininan dan juga yang sangat ANTI KORUPSI.

Dulu, ini seingat saya. Bila seorang murid berpapasan dengan guru di luar sekolah, maka serta merta sang murid akan mengambil posisi berdiri tegak dan berhenti di tempat, lalu memberi salam hormat kepada Sang Guru. Saya masih ingat betul, bagaimana saya melakukan hal itu kepada Almarhum guru saya, Gurjo, atau Guru Johan Naibaho (mantan Guru Kepala di SD Negeri I, Pangururan) yang lebih dikenal dengan Guru Sangasanga. Bukan karena takut. Tapi pada saat itu, seorang guru memang ditempatkan di Singgasana TERHORMAT

Contoh sederhananya, kalau saya mengadu ke orang tua, bahwa di Sekolah saya dimarahi atau dilissing-dipukul oleh guru, yang saya terima dari orang tua adalah tambahan lissing-lissing yang disertai dengan bentakan, “Dang na oto guru lissingonna ho, anggo dang ala ni pangalahon manang otom. Taon...!” Bayangkan, bagaimana terhormatnya guru saat itu. Sekarang? 

Kini, zaman berubah. Semua serba terbalik. Dan agaknya, saat ini, “gurulah yang takut kepada murid”. Celaka! Mungkinkah karena “Martabat” guru saat ini sudah diukur dengan materi? Ataukah memang, gurunya tidak pantas lagi dihormati karena sikapnya? Saat ini, tidak jarang kita lihat, ntah metode pendidikan apa namanya ini, guru bisa main game bersama dengan muridnya di warung internet (warnet) sambil ngemil coklat. Dan kalau mata beradu, serta hati terajut, tak jarang juga ada yang berlanjut ke pelesiran…

Pepatah ini mungkin tepat, “The good public relation, begin at home—Hal baik dimulai dari rumah”. Hal baik selanjutnya, adalah Sekolah dan pergaulan di masyarakat. Mungkin, karena saat ini para  orangtua lebih sibuk mencari nafkah, maka Sekolah menjadi tempat utama membentuk watak anak. Membentuk watak yang dimaksudkan di sini, ialah agar kelak si anak tidak menjadi seorang yang; pongah, egois, dan bisa berempati, serta toleran kepada sesamanya. 

Menurut beberapa pemikir dan Penggiat Anti Korupsi, dalam diri seorang yang sifatnya, pongah, egois, yang tidak bisa berempati dan toleran kepada sesama, ialah jika di otaknya, yang diikuti dengan perangainya, berupa keinginan yang tidak pernah luntur untuk melakuan KORUPSI. Yang tabiatnya ANGGAR JAGO dan yang tidak merasa malu melanggar HUKUM.

Tidak bisa tidak, dan ini Hukum Alam. Yang tua akan menuju busuk. Yang muda dan hijau akan tumbuh. Seperti penulis misalnya, yang kini sudah mendekati usia pensiun, sudah menuju busuk. Makan kacang, asam urat naik. Makan yang manis-manis, gula darah naik. Makan daging panggang b2 atau b1, kolestrol naik. Artinya, selain rambut menuju putih semua, tubuhpun sudah mulai reong. Dengan keadaan seperti itu, apalagi yang bisa diharapkan?

Harapan adalah doa. Jangan berhenti berharap. Begitu katanya. Konon, hanya orang matilah yang tidak punya pengharapan. Maka, saat ini pun, saya masih berharap, yang muda-muda di SAMOSIR akan tumbuh, dan yang tua—yang semoga sudah matang, sadar, bahwa tidak mungkin melawan usia, dan kelak akan masuk Lobang. Jadi, kalau “The good public relation begin at home” itu benar, mungkinkah, atau barangkali, belumlah terlambat, kalau Budi Pekerti yang dulu menjadi pelajaran utama di SD dan di SMP,  diajarkan kembali, sehingga kelak, ketika mereka sudah pemegang tampuk kepemimpinan di Negara ini, bisa melanjutkan apa yang digagas oleh Joko Widodo, Presiden RI yang fenomenal ini,  yaitu Pemimpin harus ber-PANTANG KORUPSI. Karena, lagi-lagi saya ingin mengatakan, untuk apalah IQ tinggi kalau tidak peduli dengan sesama. Maka meningkatkan EQ, AQ dan juga SQ pada anak-anak di Samosir perlu kita dorong.
*** 

Selamat Tahun Baru, 2015. Pilihlah Bupati yang : 

  • Tidak Pongah
  • Tidak EgoisEGOIS
  •  Yang bisa berempati
  • Yang Toleran
  • Juga harus WASPADA kepada Calon-CALON yang “TOPPU BURJU”

Sabtu, 06 Desember 2014

Untuk Adri Darmadji Woko

Andai aku penyair
Akan kurajut syair indah tentang dirimu
mengenai segala hal, yang pernah kita jalani
dalam kehidupan nyata,
karena dalam sepanjang masa
galaumu, adalah bebanku
dan senyumku adalah bahagiamu


Dulu dan kini sama saja
esok dan lusa, juga tidak berbeda
engkau dan aku, tetap terajut dalam hati yang sama
tetap dalam balutan persahabatan,
dan tetap setia ucapkan : Selamat Natal.

Ah, andai aku seorang penyair
tentu kalimatku akan mengalirkan kata dalam kalimat
yang mengisyaratkan kemurahan hati
karena hatimu dan hatiku satu adanya
***
S.E.N.Y.A.P


Gemerincing suaramu tak lagi berdentang
Rindumu pada pujian mulai menipis,
dari para dayang dan pemujamu
dan tak lama lagi akan sirna
karena keabadian bukanlah milik pencerca
apalagi hujatan hanya indah sekejab.

Yang benar adalah sebuah kepastian
angkara takkan mampu menenggelamkannya,
apalagi marah yang kau hujamkan dari bibirmu
berasal dari kecongkakan yg terpicu materi
dan kekuasaan yang bukan berasal dan tumbuh dari bibit kebaikan.

Ternyata pula, bahkan juru doamu,
yang kau tempatkan pada Singgasana PUJIANmu
kini mulai membisu, karena sebaris doa
hanyalah sebuah permintaan
dan tidak mampu memaksa Pencipta untuk semua yang terucap
apalagi di balik doa yg mengalir, tersembunyi kemunafikan
Sehibgga doa hanya menjadi basa-basi
yang hanya enak di telinga...

t’lah kau torehkan catatan hitam,
t’lah kau bungkam serta kau patahkan semangat juang
oknum yang setia mengayomimu, meski tidak terucap dalam kata
dan atawa dalam tindak kesehariannya,
karena dia tidak memiliki keleluasaan
tuk tumpahkan segala segala hal
...
...
dia tahu, dia menyadari
dia harus mampu menyembunyikan getir hatinya di dalam senyum dan tawanya.
***
S.I.B.U.K

Tolong baca judul di atas dalam bahasa Indonesia, dan menghilangkan titik di antara ke lima huruf yang tertera. Dan kalau kebetulan anda seorang Batak yang membaca tulisan pendek ini, pastikan, kata tersebut , tidak dan bukan bahasa BATAK , serta jangan pula anda assosiasikan ini sebagai benda yang menempel pada TULANG.

Ternyata, tanpa dihitung dan dikomando pun DESEMBER 2014 ini akan berakhir. Begitu juga Januari 2015, tanpa diundang pun dia akan hadir. Kenyataannya, hampir semua umat, karena sudah merupakan KONSENSUS UMUM, maka Januari adalah awal Tahun, dan Desember adalah akhir Tahun. Padahal apa sih bedanya, Januari, Pebruari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, Nopember, dan Desember?

Bagi seorang pengharap, biasanya DESEMBER akan membuat simulasi, atau rencana apa yang akan dilakukannya tahun depan dimulai Januari. Dikukuhkannya hatinya, 2015 adalah tahun kesusksesan, kegemilangan. Dan untuk mengukuhkan apa yang ada di otaknya, diucapkannya mantera, berupa doa biasanya, agar Sang Pencipta, yaitu Tuhan yang terformat dalam pikirannya, akan merestui dan mengabulkan semua apa yang menjadi keinginannya.

Sebaliknya, bagi yang pesimis, Desember ini adalah bulan yang membuat otaknya tidak jernih. Dia akan memandang 2015 adalah tahun penuh kesuraman. Di benaknya semua redup, tak ada peluang, dan hidup akan semakin sulit. Dia akan mendata semua faktor kesulitan, dan tidak ada rumus untuk mengatasi kesulitan itu. Harga BBM yang hanya naik duaribu pun, akan dijadikan sebagai alat utama pemicu kenaikan yang lain, sehingga karena semua naik, maka penderitaan akan naik, sehingga ibarat film India, dunia pun, akan menjadi arena untuk mengalirkan air mata. Ketemu tiang listrik, menangis. Ketemu KA, menangis. Ketemu martabak, menangis. Maka, Sungai Gangga pun, tidak akan pernah kering, karena ada sumber air yaitu air mata.

DESEMBER 2014 yang menyisakan beberapa hari lagi, menghadirkan kesibukan hampir kepada semua orang. Tidak ada yang tidak sibuk. Pengusaha sibuk mencari uang untuk gaji atau upah bulan ke 13. Pembantu sibuk, menghitung-hitung, akan dikemanakan tunjangan yang diterima dari majikannya. Pembuat kombang layang, terus berhitung berapa banyak yang mengorder kombang layangnya, para pengusaha hotel, restauran, sudah teramat sibuk mempersiapkan diri untuk para tamunya, sementara, yang akan bepergian dan meninggalkan rumahnya, sibuk mengutak-atik kunci, atau mencari tenaga khusus untuk mengamankan rumah selama bepergian.

Kalau saat ini anda menghubungi orang lain, jawaban yang populer kita dengar, “Bulan depan saja.” Ntah mengapa dan sebegitu mudah bagi kita mengiyakan, jika jawaban itu kita terima. Padahal kalau dipikir-pikir, “LEBIH CEPAT, LEBIH BAIK.” Bukankah, “Tidak baik” menunda mengerjakan sesuatu yang bisa kita kerjakan saat ini? Tapi itulah kenyataannya, bulan Desember, biasanya selalu menjadi alasan yang pas untuk menunda sesuatu, terutama bagi pengutang. Biasanya Debitur, memiliki toleransi yang tinggi dan tidak berkendak memaksa agar sipengutang harus membayar. Mengapa begitu? Katanya, ini katanya, saya belum menyimaknya dengan seksama bahwa temperamen manusia di bumi di bulan Desember, relatif adem, karena matahari agak jauh dari bumi, dan itulah alasan utama, ini katanya lagi, Jesus Kristus dari Nazareth memilih lahir di bulan Desember, tepat di situasi bumi sedang sejuk dan hati manusia mabuk-kepayang dengan cinta dan kasih sayang.
***

“Dame na sumurung ma di hamu, kombanglayang, alame dohot sasagun ma di au.”
SELAMAT HARI NATAL
Dengan ucapan : Cantik tidak perlu mahal, bersama Obama Songket—Bisa Kredit 100 tahun, dengan Surat Jaminan dari KPK Debitur dan Kreditur hidup 2 x 100 tahun

Jumat, 28 November 2014

Ende Pulut Ni Rohami


Pulut Ni Rohami

Oleh Laris Naibaho
(depok 23.11.04)

Hutadingkhon do sude hasonangan
holan manghohop ho,
dang hupaloas nanggo apala sampiltik hata
na guit ro tuho.

Hape ikhon hubege ma ho
martata mangkuling
mekkel jala marembas di pesta
ni jolma na paleahon au
na mambaen tunduk simalolongki
mandongani ateatekku na madetuk so marhasoan.

Naeng hutimbung lombang na bagas i
Naeng huhaol ronggur dohot sillam
Asa marsada au dohot sude na manghaholongi au
Ai pulut do roham marnida au tariluilu di sihabunian i.

Ref.
On pe, dang taralo au sibaran lapalapa i.
simalolong ni anakku na uli lagu
dohot borukku na uli rupa i ma jambar
siboan hasonangan di au di portibion
tuntun ma lomom, mambaen sonang roham.
***

Minggu, 02 November 2014

Socrates dan Tigor Sitanggang



DIORDIOR

SOCRATES dan TIGOR SITANGGANG*)

Sesaat sebelum Socrates meminum racun yang disiapkannya sendiri yang kemudian merenggut nyawanya, dia mengucapkan kata-kata terakhir : “Criton, aku berutang Asclepios satu ayam, jangan lupa untuk memberikannya”.

Socrates diadili di pengadilan Athena dan dituntut hukuman mati dengan tuduhan,  dia telah meracuni pikiran-pikiran kaum muda dengan ajaran-ajarannya serta ketidak percayaannya pada ketuhanan—dewa-dewa, tetapi sangat yakin, bahwa segala sesuatu kejadian yang terjadi di alam adalah karena adanya “akal yang mengatur ” yang tidak lalai dan tidak tidur. Akal yang mengatur itu adalah Tuhan yang pemurah. Dia bukan benda, hanya wujud yang rohani semata – mata.

Kendati murid-murid—pengikutnya, menganjurkan untuk menghindari hukuman mati,  agar dia melarikan diri dari penjara, yang ketika itu sangat mungkin, atau meminta pengampunan dari Penguasa Athena, Junani saat itu,  dengan menarik kata-katanya. Tapi kedua opsi itu ditolaknya dan tetap keukeuh memilih minum racun sebagai jalan menuju kematian untuk mempertahankan pendapatnya sekaligus membuktikan, dirinya  bukanlah pengecut, serta dia meyakini dirinya mewakili  kebenaran secara objektif. Socrates, membela yang benar dan yang baik,  sebagai nilai obyektif yang harus diterima dan dijunjung tinggi oleh semua orang—“Katakanlah yang benar itu benar, dan masyarakat secara umum, meyakini itu adalah benar.”

Dalam sejarah umat manusia, Socrates merupakan contoh istimewa dan merupakan seorang filosof yang jujur juga berani. Bisa dibayangkan keberaniannya saat itu yang berani melawan Penguasa Athena, termasuk melawan semua cerdik-pandai, yang di dalamnya termasuk para “penjilat “ Penguasa saat itu, yaitu mereka yang  menyelewangkan KEBENARAN agar tetap eksis dan bisa berdampingan dengan Penguasa.

Menurut Socrates, orang yang berpengetahuan dengan sendirinya berbudi baik. Apabila budi adalah TAHU berdasarkan timbangan yang benar, maka jahatnya dari orang yang tidak mengetahui,  karena tidak mempunyai pertimbangan atau penglihatan yang benar, sehingga tidak mampu menjalankan kebenaran yang benar.

***

Tigor Sitanggang*) yang sampai sekarang belum kita tahu siapa dan di mana dia berada, memang bukanlah (saya yakini) seorang Filsup seperti Socrates. Tapi dari status-status yang tertera di FB dan photo-photo yang diunggah, pastilah seorang aliran Socrates yang membela kebenaran Objektif dan bukan Kebenaran Relatif, sebagaimana para penjilat Penguasa di Athena, yang bisa memberi defenisi KEBENARAN sesuai versi mereka. Misalnya-angggaplah ini contoh yang aktual--yang terkini : “Membabat hutan, untuk dijadikan kebon singkong, demi memberikan kesejateraan kepada beberapa gelintir-puluh-ratus manusia  adalah benar, kendati kelak akan menimbulkan banjir dan membunuh ribuan manusia, atau menyengsarakan keturunan beberapa generasi kemudian.”

Kita menyaksikan dengan kasat mata pada era sekarang, Kebenaran Relatif itu menjadi sangat POPULER, sehinga dan ternyata tidak hanya yang tidak tahu saja yang sekarang ini jahat, tetapi yang tahu pun bisa lebih jahat daripada yang tidak tahu,  karena mereka bisa memanipulasi dan mencari-cari celah dari apa yang telah dia ketahui. Kenyataanya, justru kejahatan dari orang-orang yang berpengetahuan inilah yang lebih berbahaya saat ini, dan inilah yang dilihat Tigor Sitanggang sebagai sesuatu yang sangat mengerikan dan karena itu harus dilawan, bagaimana pun caranya.

Tanggapan-tangggapan kepada tokoh ini sejujurnya mayoritas mendukung dan memberi hormat, karena semua statusnya, sepertinya berlandaskan data yang akurat, dan tidak ada tendensi untuk kepentingan pribadi, tetapi lebih pada rasa prihatin yang mendalam serta murka melihat tingkahlaku para Pemangku Jabatan di Samosir. Semua yang dilakukannya, secara implisit mengandung kecintaan yang sangat dalam  ke Samosir. Patut diduga, tokoh ini, lahir dan besar serta pernah menjadi karyawan Pemkab, tetapi tersingkir karena tidak ikut arus permainan kelompok yang jahat tadi.

Tulisan ini tidak bermaksud agar tokoh ini ke luar dari “persembunyiannya” dan mengatakan, “ Ini dadaku, mana dadamu?” lalu kemudian secara heroik membuka data yang akurat itu ke masyarakat, melaporkannya ke Kejaksaan atau KPK, walaupun mungkin itu sudah  dilakukan secara “sembunyi-sembunyi.”

Tidak juga menganjurkan agar dia datang ke Kantor Bupati dengan membawa bundelan-bundelannya di tangan kiri dan bensin atau racun  di tangan kanan untuk membela kebenaran ala Socrates, tidak. Sekali lagi tidak. Tetapi, apa pun, tanggapan masyarakat dan yang memberi comment dan curiga, kalau di balik itu semua ada hasrat tersembunyi untuk menggolkan rekannya menjadi Bupati di 2015, tidak juga bisa dinafikan. Tapi kalau saya ditanya, perlukah tokoh ini ke luar dari sarang ? Saya harus mengatakan, karena ini bukan zaman Socrates yang belum ada CCTV, maka tetaplah SEMBUNYI, biar seru dan tetap membuat hati PENASARAN, seperti nyanyian Rhoma Irama, “ Sungguh mati aku masih penasaran...”
***
·         *)Tigor Sitanggang yang dimaksud di sini, adalah Tokoh yang ada di Akun Facebook, dan bukan yang lain.

·         Selamat hari Minggu untuk semua rekan dan keluarga di Samosir dan di luar Samosir.