S.E.N.Y.A.P
Gemerincing suaramu tak lagi berdentang
Rindumu pada pujian mulai menipis,
dari para dayang dan pemujamu
dan tak lama lagi akan sirna
karena keabadian bukanlah milik pencerca
apalagi hujatan hanya indah sekejab.
Yang benar adalah sebuah kepastian
angkara takkan mampu menenggelamkannya,
apalagi marah yang kau hujamkan dari bibirmu
berasal dari kecongkakan yg terpicu materi
dan kekuasaan yang bukan berasal dan tumbuh dari bibit kebaikan.
Ternyata pula, bahkan juru doamu,
yang kau tempatkan pada Singgasana PUJIANmu
kini mulai membisu, karena sebaris doa
hanyalah sebuah permintaan
dan tidak mampu memaksa Pencipta untuk semua yang terucap
apalagi di balik doa yg mengalir, tersembunyi kemunafikan
Sehibgga doa hanya menjadi basa-basi
yang hanya enak di telinga...
t’lah kau torehkan catatan hitam,
t’lah kau bungkam serta kau patahkan semangat juang
oknum yang setia mengayomimu, meski tidak terucap dalam kata
dan atawa dalam tindak kesehariannya,
karena dia tidak memiliki keleluasaan
tuk tumpahkan segala segala hal
...
...
dia tahu, dia menyadari
dia harus mampu menyembunyikan getir hatinya di dalam senyum dan tawanya.
***
Sabtu, 06 Desember 2014
S.I.B.U.K
Tolong baca judul di atas dalam bahasa Indonesia, dan menghilangkan titik di antara ke lima huruf yang tertera. Dan kalau kebetulan anda seorang Batak yang membaca tulisan pendek ini, pastikan, kata tersebut , tidak dan bukan bahasa BATAK , serta jangan pula anda assosiasikan ini sebagai benda yang menempel pada TULANG.
Ternyata, tanpa dihitung dan dikomando pun DESEMBER 2014 ini akan
berakhir. Begitu juga Januari 2015, tanpa diundang pun dia akan hadir.
Kenyataannya, hampir semua umat, karena sudah merupakan KONSENSUS UMUM,
maka Januari adalah awal Tahun, dan Desember adalah akhir Tahun. Padahal
apa sih bedanya, Januari, Pebruari, Maret, April, Mei, Juni, Juli,
Agustus, September, Oktober, Nopember, dan Desember?
Bagi seorang pengharap, biasanya DESEMBER akan membuat simulasi, atau rencana apa yang akan dilakukannya tahun depan dimulai Januari. Dikukuhkannya hatinya, 2015 adalah tahun kesusksesan, kegemilangan. Dan untuk mengukuhkan apa yang ada di otaknya, diucapkannya mantera, berupa doa biasanya, agar Sang Pencipta, yaitu Tuhan yang terformat dalam pikirannya, akan merestui dan mengabulkan semua apa yang menjadi keinginannya.
Sebaliknya, bagi yang pesimis, Desember ini adalah bulan yang membuat otaknya tidak jernih. Dia akan memandang 2015 adalah tahun penuh kesuraman. Di benaknya semua redup, tak ada peluang, dan hidup akan semakin sulit. Dia akan mendata semua faktor kesulitan, dan tidak ada rumus untuk mengatasi kesulitan itu. Harga BBM yang hanya naik duaribu pun, akan dijadikan sebagai alat utama pemicu kenaikan yang lain, sehingga karena semua naik, maka penderitaan akan naik, sehingga ibarat film India, dunia pun, akan menjadi arena untuk mengalirkan air mata. Ketemu tiang listrik, menangis. Ketemu KA, menangis. Ketemu martabak, menangis. Maka, Sungai Gangga pun, tidak akan pernah kering, karena ada sumber air yaitu air mata.
DESEMBER 2014 yang menyisakan beberapa hari lagi, menghadirkan kesibukan hampir kepada semua orang. Tidak ada yang tidak sibuk. Pengusaha sibuk mencari uang untuk gaji atau upah bulan ke 13. Pembantu sibuk, menghitung-hitung, akan dikemanakan tunjangan yang diterima dari majikannya. Pembuat kombang layang, terus berhitung berapa banyak yang mengorder kombang layangnya, para pengusaha hotel, restauran, sudah teramat sibuk mempersiapkan diri untuk para tamunya, sementara, yang akan bepergian dan meninggalkan rumahnya, sibuk mengutak-atik kunci, atau mencari tenaga khusus untuk mengamankan rumah selama bepergian.
Kalau saat ini anda menghubungi orang lain, jawaban yang populer kita dengar, “Bulan depan saja.” Ntah mengapa dan sebegitu mudah bagi kita mengiyakan, jika jawaban itu kita terima. Padahal kalau dipikir-pikir, “LEBIH CEPAT, LEBIH BAIK.” Bukankah, “Tidak baik” menunda mengerjakan sesuatu yang bisa kita kerjakan saat ini? Tapi itulah kenyataannya, bulan Desember, biasanya selalu menjadi alasan yang pas untuk menunda sesuatu, terutama bagi pengutang. Biasanya Debitur, memiliki toleransi yang tinggi dan tidak berkendak memaksa agar sipengutang harus membayar. Mengapa begitu? Katanya, ini katanya, saya belum menyimaknya dengan seksama bahwa temperamen manusia di bumi di bulan Desember, relatif adem, karena matahari agak jauh dari bumi, dan itulah alasan utama, ini katanya lagi, Jesus Kristus dari Nazareth memilih lahir di bulan Desember, tepat di situasi bumi sedang sejuk dan hati manusia mabuk-kepayang dengan cinta dan kasih sayang.
***
“Dame na sumurung ma di hamu, kombanglayang, alame dohot sasagun ma di au.”
SELAMAT HARI NATAL
Dengan ucapan : Cantik tidak perlu mahal, bersama Obama Songket—Bisa Kredit 100 tahun, dengan Surat Jaminan dari KPK Debitur dan Kreditur hidup 2 x 100 tahun
Bagi seorang pengharap, biasanya DESEMBER akan membuat simulasi, atau rencana apa yang akan dilakukannya tahun depan dimulai Januari. Dikukuhkannya hatinya, 2015 adalah tahun kesusksesan, kegemilangan. Dan untuk mengukuhkan apa yang ada di otaknya, diucapkannya mantera, berupa doa biasanya, agar Sang Pencipta, yaitu Tuhan yang terformat dalam pikirannya, akan merestui dan mengabulkan semua apa yang menjadi keinginannya.
Sebaliknya, bagi yang pesimis, Desember ini adalah bulan yang membuat otaknya tidak jernih. Dia akan memandang 2015 adalah tahun penuh kesuraman. Di benaknya semua redup, tak ada peluang, dan hidup akan semakin sulit. Dia akan mendata semua faktor kesulitan, dan tidak ada rumus untuk mengatasi kesulitan itu. Harga BBM yang hanya naik duaribu pun, akan dijadikan sebagai alat utama pemicu kenaikan yang lain, sehingga karena semua naik, maka penderitaan akan naik, sehingga ibarat film India, dunia pun, akan menjadi arena untuk mengalirkan air mata. Ketemu tiang listrik, menangis. Ketemu KA, menangis. Ketemu martabak, menangis. Maka, Sungai Gangga pun, tidak akan pernah kering, karena ada sumber air yaitu air mata.
DESEMBER 2014 yang menyisakan beberapa hari lagi, menghadirkan kesibukan hampir kepada semua orang. Tidak ada yang tidak sibuk. Pengusaha sibuk mencari uang untuk gaji atau upah bulan ke 13. Pembantu sibuk, menghitung-hitung, akan dikemanakan tunjangan yang diterima dari majikannya. Pembuat kombang layang, terus berhitung berapa banyak yang mengorder kombang layangnya, para pengusaha hotel, restauran, sudah teramat sibuk mempersiapkan diri untuk para tamunya, sementara, yang akan bepergian dan meninggalkan rumahnya, sibuk mengutak-atik kunci, atau mencari tenaga khusus untuk mengamankan rumah selama bepergian.
Kalau saat ini anda menghubungi orang lain, jawaban yang populer kita dengar, “Bulan depan saja.” Ntah mengapa dan sebegitu mudah bagi kita mengiyakan, jika jawaban itu kita terima. Padahal kalau dipikir-pikir, “LEBIH CEPAT, LEBIH BAIK.” Bukankah, “Tidak baik” menunda mengerjakan sesuatu yang bisa kita kerjakan saat ini? Tapi itulah kenyataannya, bulan Desember, biasanya selalu menjadi alasan yang pas untuk menunda sesuatu, terutama bagi pengutang. Biasanya Debitur, memiliki toleransi yang tinggi dan tidak berkendak memaksa agar sipengutang harus membayar. Mengapa begitu? Katanya, ini katanya, saya belum menyimaknya dengan seksama bahwa temperamen manusia di bumi di bulan Desember, relatif adem, karena matahari agak jauh dari bumi, dan itulah alasan utama, ini katanya lagi, Jesus Kristus dari Nazareth memilih lahir di bulan Desember, tepat di situasi bumi sedang sejuk dan hati manusia mabuk-kepayang dengan cinta dan kasih sayang.
***
“Dame na sumurung ma di hamu, kombanglayang, alame dohot sasagun ma di au.”
SELAMAT HARI NATAL
Dengan ucapan : Cantik tidak perlu mahal, bersama Obama Songket—Bisa Kredit 100 tahun, dengan Surat Jaminan dari KPK Debitur dan Kreditur hidup 2 x 100 tahun
Jumat, 28 November 2014
Ende Pulut Ni Rohami
Pulut Ni Rohami
Oleh Laris Naibaho
(depok 23.11.04)
Hutadingkhon do sude hasonangan
holan manghohop ho,
dang hupaloas nanggo apala sampiltik hata
na guit ro tuho.
Hape ikhon hubege ma ho
martata mangkuling
mekkel jala marembas di pesta
ni jolma na paleahon au
na mambaen tunduk simalolongki
mandongani ateatekku na madetuk so marhasoan.
Naeng hutimbung lombang na bagas i
Naeng huhaol ronggur dohot sillam
Asa marsada au dohot sude na manghaholongi au
Ai pulut do roham marnida au tariluilu di sihabunian i.
Ref.
On pe, dang taralo au sibaran lapalapa i.
simalolong ni anakku na uli lagu
dohot borukku na uli rupa i ma jambar
siboan hasonangan di au di portibion
tuntun ma lomom, mambaen sonang roham.
***
Minggu, 02 November 2014
Socrates dan Tigor Sitanggang
DIORDIOR
SOCRATES dan TIGOR SITANGGANG*)
Sesaat sebelum Socrates meminum racun yang disiapkannya
sendiri yang kemudian merenggut nyawanya, dia mengucapkan kata-kata terakhir : “Criton,
aku berutang Asclepios satu ayam, jangan lupa untuk memberikannya”.
Socrates diadili di pengadilan Athena dan dituntut
hukuman mati dengan tuduhan, dia telah
meracuni pikiran-pikiran kaum muda dengan ajaran-ajarannya serta ketidak
percayaannya pada ketuhanan—dewa-dewa, tetapi sangat yakin, bahwa segala
sesuatu kejadian yang terjadi di alam adalah karena adanya “akal yang mengatur ” yang tidak lalai dan tidak tidur. Akal yang mengatur itu adalah Tuhan yang
pemurah. Dia bukan benda, hanya wujud yang rohani semata – mata.
Kendati murid-murid—pengikutnya, menganjurkan untuk menghindari
hukuman mati, agar dia melarikan diri
dari penjara, yang ketika itu sangat mungkin, atau meminta pengampunan dari Penguasa
Athena, Junani saat itu, dengan menarik kata-katanya. Tapi kedua opsi itu
ditolaknya dan tetap keukeuh memilih
minum racun sebagai jalan menuju kematian untuk mempertahankan pendapatnya sekaligus
membuktikan, dirinya bukanlah pengecut,
serta dia meyakini dirinya mewakili kebenaran secara objektif. Socrates, membela
yang benar dan yang baik, sebagai nilai
obyektif yang harus diterima dan dijunjung tinggi oleh semua orang—“Katakanlah
yang benar itu benar, dan masyarakat secara umum, meyakini itu adalah benar.”
Dalam sejarah umat manusia, Socrates merupakan contoh
istimewa dan merupakan seorang filosof yang jujur juga berani. Bisa dibayangkan keberaniannya saat itu yang
berani melawan Penguasa Athena, termasuk melawan semua cerdik-pandai, yang di
dalamnya termasuk para “penjilat “ Penguasa saat itu, yaitu mereka yang menyelewangkan KEBENARAN agar tetap eksis dan
bisa berdampingan dengan Penguasa.
Menurut Socrates, orang yang berpengetahuan dengan
sendirinya berbudi baik. Apabila budi adalah TAHU berdasarkan timbangan yang
benar, maka jahatnya dari orang yang tidak mengetahui, karena tidak mempunyai pertimbangan atau
penglihatan yang benar, sehingga tidak mampu menjalankan kebenaran yang benar.
***
Tigor Sitanggang*) yang sampai sekarang belum kita tahu
siapa dan di mana dia berada, memang bukanlah (saya yakini) seorang Filsup
seperti Socrates. Tapi dari status-status yang tertera di FB dan photo-photo
yang diunggah, pastilah seorang aliran Socrates yang membela kebenaran Objektif
dan bukan Kebenaran Relatif, sebagaimana para penjilat Penguasa di Athena, yang
bisa memberi defenisi KEBENARAN sesuai versi mereka. Misalnya-angggaplah ini
contoh yang aktual--yang terkini : “Membabat hutan, untuk dijadikan kebon
singkong, demi memberikan kesejateraan kepada beberapa gelintir-puluh-ratus
manusia adalah benar, kendati kelak akan
menimbulkan banjir dan membunuh ribuan manusia, atau menyengsarakan keturunan
beberapa generasi kemudian.”
Kita menyaksikan dengan
kasat mata pada era sekarang, Kebenaran Relatif itu menjadi sangat POPULER,
sehinga dan ternyata tidak hanya yang tidak tahu saja yang sekarang ini jahat, tetapi
yang tahu pun bisa lebih jahat daripada yang tidak tahu, karena mereka bisa
memanipulasi dan mencari-cari celah dari apa yang telah dia ketahui. Kenyataanya,
justru kejahatan dari orang-orang yang berpengetahuan inilah yang lebih
berbahaya saat ini, dan inilah yang dilihat Tigor Sitanggang sebagai sesuatu
yang sangat mengerikan dan karena itu harus dilawan, bagaimana pun caranya.
Tanggapan-tangggapan
kepada tokoh ini sejujurnya mayoritas mendukung dan memberi hormat, karena
semua statusnya, sepertinya berlandaskan data yang akurat, dan tidak ada
tendensi untuk kepentingan pribadi, tetapi lebih pada rasa prihatin yang
mendalam serta murka melihat tingkahlaku para Pemangku Jabatan di Samosir. Semua
yang dilakukannya, secara implisit mengandung kecintaan yang sangat dalam ke Samosir. Patut diduga, tokoh ini, lahir
dan besar serta pernah menjadi karyawan Pemkab, tetapi tersingkir karena tidak
ikut arus permainan kelompok yang jahat tadi.
Tulisan ini tidak
bermaksud agar tokoh ini ke luar dari “persembunyiannya” dan mengatakan, “ Ini
dadaku, mana dadamu?” lalu kemudian secara heroik membuka data yang akurat itu
ke masyarakat, melaporkannya ke Kejaksaan atau KPK, walaupun mungkin itu
sudah dilakukan secara “sembunyi-sembunyi.”
Tidak juga menganjurkan
agar dia datang ke Kantor Bupati dengan membawa bundelan-bundelannya di tangan
kiri dan bensin atau racun di tangan kanan
untuk membela kebenaran ala Socrates, tidak. Sekali lagi tidak. Tetapi, apa
pun, tanggapan masyarakat dan yang memberi comment
dan curiga, kalau di balik itu semua ada hasrat tersembunyi untuk menggolkan
rekannya menjadi Bupati di 2015, tidak juga bisa dinafikan. Tapi kalau saya
ditanya, perlukah tokoh ini ke luar dari sarang ? Saya harus mengatakan, karena
ini bukan zaman Socrates yang belum ada CCTV, maka tetaplah SEMBUNYI, biar seru
dan tetap membuat hati PENASARAN, seperti nyanyian Rhoma Irama, “ Sungguh mati
aku masih penasaran...”
***
·
*)Tigor Sitanggang yang dimaksud di
sini, adalah Tokoh yang ada di Akun Facebook, dan bukan yang lain.
·
Selamat hari Minggu untuk semua rekan
dan keluarga di Samosir dan di luar Samosir.
Sabtu, 01 November 2014
Nahum Situmorang dan Sidharta Gautama
NAHUM SITUMORANG DAN SIDHARTA GAUTAMA
(lembar pertama)
Kita memerlukan
kata, KECUALI. Kalau kata ini
sampai dicabut dari Kamus Umum Bahasa Indonesia (KBBI) dan apalagi dilarang
penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari, saya yakini akan tercipta ketidakadilan. Ada ungkapan yang sangat terkenal
di masyarakat Inggeris, “There is no rule without exception.—Tidak ada
hukum tanpa kecuali.”, karena itu dalam tulisan saya di dalam buku MERENUNG DIBALUT SENYUM, yang salah
satu berjudul, “MAAFKAN SAYA INANG BAO”,
memastikan, bukan Dosa tak berampun,
jika seorang Bao,harus memangku
Inangbaonya, jika hal tersebut dilakukan untuk menyelamatkan jiwa manusia dan
terhindar dari hukuman Tuhan. Sebab, bukankah Tuhan memerintahkan untuk
mengasihi orang lain seperti diri sendiri?
Katanya, tapi
apakah ini adalah hasil penelitian dan merupakan sebuah kesimpulan, bahwa orang Batak di dalam hidupnya yang sesungguhnya, tujuannya adalah untuk mengejar 3 H atau 3 K: Hamoraon—Kekayaan
, Hagabeon—Kebahagiaan, dan Hasangapon—Kehormatan. Setelah
ketiga hal ini dicapai, maka barulah seseorang itu bisa disebut, Saur—Sempurna.
Sepertinya tidak
ada yang salah dari tujuan ini. Menjadi kaya, lalu bahagia, kemudian terhormat,
bukankah ideal? Secara apriori, saya yakin 3H ini ada di ambang sadar setiap
insan manusia, tidak terkecuali orang Batak. Artinya, mungkin semua manusia di
kolong langit, bercita-cita menggapai 3 H tersebut dengan caranya masing-masing. Tetapi dan lalu menjadi
pertanyaan, apakah benar, seorang KAYA dari
hasil menjarah, atau menipu, atau korupsi itu bahagia dan bisa diberi
label sebagai seorang TERHORMAT?
Semua orang tahu
siapa seorang Akil Muchtar. Saya berani menyebut namanya di sini, karena bekas
Ketua Mahkamah Konstitusi ini sudah menjadi terpidana. Apakah dia seorang yang
Terhormat? Begitu juga dengan siapalah yang ada di benak Anda orang Batak yang banyak uang tapi hasil
korupsi dan kemudian menjadi penghuni hotel Prodeo, apakah yang bersangkuta ini
yang dimaksud dengan TERHORMAT?
Tak pelak lagi,
saya harus hormat kepada Nahum Situmorang, yang maaf, bukan karena kebetulan
dia menjadi Tulangnya si Obamaputralaris, sehingga berlandas ke Dalihan Natolu,
dan karena itu, saya mutlak harus hormat padanya, yang mengatakan :
(Maragam-ragam doanggo sitta-sitta di hita manisia
Hamoraon, hagabeon,
hasangapon,
Ido di lului nadeba
Di nadeba asalma tarbarita
goarna tahe
Anggo di au asingdo sitta-sitta –KECUALI
Tung holong ni roham si
sambing—HANYA—jadi, tidak ada yang lain
Na huparsitta-sitta.
Tung asi ni roham ma ito unang
loas au maila...
....)
Barangkali saja, apa yang
disampaikan NS ini, hanya bisa dipakai dalam lagu dan tidak bisa diterapkan
dalam kehidupan nyata. Bahkan yang lebih pahit, bisa saja anda menyetir
kalimat-kalimat sumbang yang menyebut, “Nadila
Parende” dan menambahkan, “Ai boi do
bosur siubeon molo holan marende?”
Terserahlah. Tetapi, tak salah
juga seperti yang disampaikan oleh anak
si Tukang kayu, “Manusia hidup tidak hanya dari sepotong roti, tapi juga dari
karunia si Pencipta.” Karena ternyata kalau tujuan manusia adalah untuk merebut
KEBAHAGIAAN dan karena itu menjadi TERHORMAT, apakah selalu dengan memiliki
harta yang berlimpah sebagai sarananya? Karena seperti disebutkan di atas, Akil
Muchtar di mata sebagian besar Masyarakat Indonesia, TIDAK LAGI TERHORMAT, meski dia sempat memiliki harta, yang jika dipakai untuk membangun jalan
Lingkar Pulau Samosir masih lebih dan sisanya bisa membeli kapal korek untuk
dipakai mengeruk terusan Tano Ponggol.
***
***
Selamat menyongsong hari
Minggu
(Molo mangaleon durungdurung marsogot,
molo
na mera do warnani hepeng i,
unang pola dipatudutudu tuhombar jolo manang tu dongan
na di samping...)
Jumat, 31 Oktober 2014
GURU DAEK
Oleh Almarhum Among, kami bertiga, JJ Corleman Naibaho, Edison Naibaho dan saya sudah dipajae di Simangonding, dengan membangun kios yang kami sebut petak, persis di depan rumahnya yang bersebelahan dengan rumah Rakhman Naibaho. Di petak itulah kami tinggal sambil berdagang dengan menjual macam-macam kebutuhan pokok sehari-hari, antara lain roti kelapa, ketawa dan minyak tanah.
Yang saya pentingkan dari dia, hanya mau mendapatkan jawaban untuk pertanyaan yang selama puluhan tahun mendekam di otak saya, yaitu, mengapa dia begitu ditakuti dan disegani di Kaban Jahe, Tanah Karo, Haranggaol, Simalungun dan di Samosir tentunya. Padahal setahuku, dia bukan pembunuh, bukan juga yang suka, anggar jago, pajago-jagohon atau yang sukanya memukuli orang. Setahuku, hanya sekali dia manopar—memukul seseorang di Tano Lapang, hingga wajah yang dipukulnya berdarah-darah, lebih pada sikap yang dipukulinya itu mau coba-coba, sejauh mana sebetulnya kehebatan Guru Daek ini sebagaimana diceritakan orang lain.
Jujur, di waktu kecil, saya teramat takut bertemu sosok ini. Kalau kebetulan dia membeli rokok atau sesuatu dari petak kami, hati sudah degdegan. Tak berani menatap wajahnya. Padahal Guru Daek ini, kalau berbicara, suaranya lembut dan sikapnya amat santun. “Dia jo sabungkus Union Filter i anggia," pintanya dengan suara lembut. Dia selalu santun kepada siapa pun, termasuk ke anak-anak. Saat itu, Abang saya duduk di SMP Budimulia dan saya masih SD.
Suatu ketika, saya manangi-nangi, bahwa Guru Daek ini memberi nasehat kepada anakbuahnya, kalau tidak salah sebut, namanya Japuti, kalau duduk di Lapo, atau di tempat umum, harus membelakangi tembok dan menghadap arah pintu orang masuk. Katanya, siapa tahu ada lawan atau musuh datang. Kalau musuh datang harus dihadapi, bukan untuk dihindari. Dengan menghadap langsung ke arah pintu masuk, maka ada kesiapan untuk menangkis dan memukul balik sang musuh .
Seingat saya, dari cerita-cerita anakbuhnya yang datang ke petak kami, Guru Daek ini, bukanlah seorang pemarah dan tidak suka marah-marah. Tetapi apa yang diperintahkan ke anakbuahnya, tidak seorang pun di antara anakbuahnya yang berani melawan. Dan yang paling saya ingat, katanya, Guru Daek ini pantang mengetahui dan membiarkan anakbuahnya lapar atau kelaparan. Konon, kalau anakbuahnya tidak punya uang dan perut lapar, mereka akan datang ke lapo dengan santun, dan meminta disediakan makanan dan yang akan membayar adalah Guru Daek. Dan jangan salah, berapa banyak pun biaya atau harga makanan yang disantap anakbuahnya, Guru Daek selalu setia membayarnya.
***
PARMAHAN SO MARBATAHI
Beberapa tahun lalu,saya sempat menjadi “murid” Prakitri Tahi Simbolon, seorang Doktor asal Rianiate. Selama menjadi murid, dia membekali saya dengan begitu banyak Ilmu Kepemimpinan. Sayangnya, saya tidak mampu mencernanya secara baik dan benar, karena tahulah kalian si Prakitri Tahi Simbolon ini, dikiranya semua orang yang diajarinya secerdas dirinya, sehingga banyak yang di tengah jalan, kalau tidak mundur teratur. yang meneruskan, bisa dipastikan otak sang murid akan mengarah ke “pesong” karena pasti tidak kuat untuk menampung semua yang dikatakan--diajarkannya.
Meski saya mundur teratur, tapi selama menjadi murid, masih ada yang terekam di otak saya, yaitu jabarannya tentang, bahwa sebenarnya, orang Batak itu bukanlah orang kasar seperti yang dilabeli oleh kelompok tertentu. Orang Batak itu, bahkan mungkin orang aatau suku yang paling santun dan terlembut hatinya daripada semua suku yang ada di dunia. Menurut Prakitri, hanya orang Bataklah yang mengajarkan cara memimpin ala : Parmahan so MARBATAHI--penggembala tanpa pecut. Pamuro so MARUMBALANG—Karena itu, saya teramat risih sekaligus geram, kalau ada calon Bupati yang AROGAN—yang bicaranya, ini menurut saya, tidak lagi santun dan apalagi yang—akan “Mangompashon Bolonna dohot Mangalipathon ganjangna.”—yang tidak lagi mengindahkan Kaedah Hukum yang berlaku, yang tanda-tandanya akan menyelesaikan segala sesuatunya dengan kekerasan--balga nibotohon, atau yang barangkali akan “menggembalakan” PAREMAN untuk mewujudkan keinginannya.
***
Salam untuk keluarga di Samosir.
Mulak ma hita tu pangalaho na ni ajarhon ni Omputta.
(Pantun hangoluan,
Tois hamagoan.)
Jumat, 24 Oktober 2014
MAKAN SIANG,URAP dan (yg) DIURAPI
Persoalannya memang sepele hanya karena urap, suami isteri ini harus diam-diaman bahkan mungkin akan ke Pengadilan meminta palu Hakim diketok, dan kemudian bercerai.
Pasalnya sederhana. Siang itu, mereka memilih tidak memasak di rumah dan memutuskan makan di Warteg dekat rumah. Tahulah kedua orang ini, yang memahami masalah kesehatan, dan tahu persis makan siang mutlak makan sayur, karena sesuai dengan tatakelola kesehatan mengonsumsi sayur baik bagi kesehatan, karena sayur berfungsi untuk membantu pencernaan, dan dengan pencernaan bagus, maka fungsi darah akan lancar sehingga jantung akan bekerja dengan baik.
Rupanya, ketika siang itu mereka masuk Warteg, si urap hampir habis dan porsinya hanya layak untuk satu orang. Mereka pun bertatapan seakan masing-masing meminta untuk diberi hak istimewa untuk mendapakan urap itu. Tapi si Isteri “mengalah” melihat tatapan tajam suaminya yang seperti mata harimau yang siap memangsa, kendati oleh karena itu, malam dan malam berikut dan berikutnya selalu membelakangi suaminya dan tidak lagi melakukan kewajibannya. Bisa dipahami, “bila sebuah toko sering tutup, maka konsumen pasti akan pindah ke toko yang lain.”
DIURAPI
Urapan membuat seseorang menjadi berbeda dari orang lain, sehingga ia mampu melakukan pekerjaan Tuhan dengan berhasil sesuai dengan kehendak Tuhan. Seorang yang diurapi, mungkin saja, ini mungkin, disebut telah diurapi, apabila seseorang itu memiliki harta benda, uang berkarung-karung, dan kekuasaan melebihi yang lain atau jauh lebih besar daripada orang di sekitarnya. “Benarlah kau seorang yang diurapi, bah!” Tetapi sesungguhnya tidak demikian.
Sudah pasti, seseorang bukanlah termasuk yang di-URAPI kendati memiliki harta yang banyak, tapi hasil menipu, memiliki kekuasaan karena membeli atau seorang yang sukanya berpura-pura, munafik, pun yang segala perbuatan yang dilakukannya bukan berasal dari kasih Tuhan, semisal menyumbang gereja hanya agar dianggap baik dan agar jemaatnya nanti memilih dia untuk jadi Bupati, karena arti URAPAN itu sendiri sesuai asal katanya dari Yunani, Chrio, adalah Karya Roh Kudus dalam orang percaya, dan merupakan pemberian ilahi pada orang-orang percaya untuk melakukan pekerjaannya.
Dapat disimpulkan, tetapi tetaplah hak anda memberi label kepada seseorang sebagai seorang yang diurapi atau tidak. Namun sesungguhnya, seseorang yang kaya, berkuasa, dan banyak pengikut tidak serta-merta bisa disebut sebagai seorang yang diurapi, jika belum hidup sederhana, tidak melakukan penipuan, misalnya balon bocor disebut hanya kempes, atau kacang sekilo tapi sudah dioplos dengan 2 ons pasir. Hati-hatilah melakukan penyebutan itu, karena Saddam Husein, yang semasa hidupnya sebelum digantung, adalah orang kaya, orang kuat, orang hebat, tetapi saya pastikan dia bukanlah seorang yang diurapi. Karena itu tadi, maaf, semua yang dihasilkan; harta yang diperolehnya adalah adalah hasil korupsi dan kekuasaannya yang didapat dari keserakahan dan kekejaman...
Maka itu, ini hanya himbauan, siapa tahu anda sempat melabeli diri anda sebagai seorang yang diurapi, tapi menyimpang dari pengertian di atas, silahkan INTROSPEKSI dan ada baiknya, masuklah ke bilut mu, dan berdoalah, “Amang Debata, sahat tu Ho ma sude daging dohot tondingki, jora ma ahu.”
***
Selamat berSabbath besok.
jayalah SAMOSIR ku.
***
Selamat berSabbath besok.
jayalah SAMOSIR ku.
Langganan:
Postingan (Atom)