Rabu, 18 Juni 2014

Obor

O B O R
Di masa kecil saya di Kampung kelahiran saya Pangururan, Samosir, menjelang Natal, ada suatu acara di maLam hari “Marobor-obor”. ini ketika Listrik belum ada dan alat penerangan paling canggih di rumah penduduk MASIH  lampu Petromak atau disebut orang lampu gas.
Acara marobor-obor ini, biasanya dipandu oleh guru sekolah minggu yang startNYA  dari halaman sekolah atau dari halaman gereja, mirip sebuah pawai, karena anak-anak biasanya mengenakan pakaian  bebas yang berwarna-warni  dan setiap orang membawa obornya masing-masing.
Obor ini terbuat dari batang bambu  yang diberi sumbu dan bahan bakarnya minyak tanah.  Setelah sumbu obor dinyalakan, dan anak-anak dibuat berbaris, maka perjalanan dimulai menyusur jalan-jalan yang ditentukan. Tentu saja jalanan  menjadi terang-benderang berkat cahaya dari OBOR. Belakangan Obor yang terbuat dari bamboo tergantikan dengan kehadiran lilin.
Sambil berjalan dengan gerakan seperti baris-berbaris, sepanjang jalan peserta tidak henti menyanyikan berbagai ende—lagu,  utamanya yang berkaitan dengan Natal. Salah satu lagu yang penggalannya masih saya ingat…
(…obor obor,
Obor obor
Marhillong –hillong lilin i
Manamu-nomu raja i…
Obor obor)

 Pada saat itu Obor dinyalakan adalah untuk menerangi kegelapan, sehingga mata bisa melihat ke depan sehingga kaki tidak terantuk-antuk.
***
William Shakespeare, penulis cerita Macbeth dengan nada bertanya, “What’s in the name?”—Apa yang tersirat di dalam nama?
 Nama tentu mencerminkan sesuatu. Misalnya oleh ayah saya almarhum, saya diberi nama Laris. Menurut dia, agar apa pun yang saya jual agar laku atau laris. Kenyataanya memang demikian, karena pancake durian asal MEDAN, yang kemudian diberi merk Obama Pancake,  saat ini tergolong laris manis, karena, bahkan seorang Jansen Sinamo, Sang Guru Ethos yang motivator Nasional itu telah pula memesannya. Weh. Karena itu, tentulah hati saya menjadi miris dan menggugat, mengapa  juga OBOR yang terbit dan beredar saat ini, tidak mencerminkan isi seperti  namanya. Bukankah seharusnya media cetak ini, akan menerangi pikiran dan kemudian menyejuki hati setiap insan yang membacanya?  Kalau kemudian, seperti yang dilansir berbagai media elektoronik, di mana setelah masyarakat membaca terbentuk dua kubu yang saling mengejek dan bahkan mengarah kepada “Peperangan.”

Saya amat menyadari, untuk membangun Opini agar jagoan kita naik elektabilitasnya, dan kelak kalau menang bisa membusungkan dada sebagai orang yang berjasa, apa pun  harus dilakukan. Tetapi, sangat disayangkan, jika hanya untuk tujuan itu, kita harus melakukan Black Campaign dan seperti dimuat di KOMPAS hari ini, ada 3 Ketentuan Undang-Undang yang mungkin sudah dilanggar oleh OBOR :
1.      UU No.40 tentang Pers,
2.      UU No.42 Tahun 2008 Tentang Pemilu Presiden
3.      KUHP (310, 311, 315).
Padahal sesungguhnya seorang yang mengaku INTELEK tentulah harus menggunakan akalnya, karena fungsi akal adalah membedakan mana yang salah dan mana yang benar. Selain itu, Karena kita juga tahu tentang ETIKA, yaitu Pola bersikap tindak, baik interpersonal maupun antarpersonal, pasti bisa membantu kita untuk lebih BIJAK untuk mengekspos sesuatu.
***

Catatan Penulsis : (Siapa pun yang menjadi Presiden tidak menjadi masalah, karena pastilah tujuannya untuk mencerdaskan manusia INDONESIA, termasuk saya yang masih bego, karena seringkali  ASBUN).

Senin, 09 Juni 2014

TANGIANG ADLIPS

Memang cerita ini sudah dalwarsa, usang, dan tidak mungkin lagi membuat kita tertawa. Tapi, karena masih membekas di benak, tetap saja saya tuliskan dan share kepada anda. Terserah mau bilang apa, karena tulisan ini tidak sedang menceritakan siapa atau mengejek siapa, tapi hanya sekedar perenungan bagi saya. Jadi, jika anda tertawa dan tidak marah, berarti paslah tulisan ini untuk anda. Jika anda marah dan merasa tersinggung, ini BUKAN UNTUK ANDA. Ingatlah pesan Nenek moyang kita, “Dang ditopot aek na soboruran.”

Kejadiannya kemarin di tempat arisan.

Sebetulnya saya sudah malas datang ke acara seperti ini. Membosankan. Karena acaranya begitu-begitu aja. Tidak inspiratif, dan cenderung “menambah dosa.” Jangan terus marah, karena ini hanya pendapat subjektif saya.

Soalnya  tiap arisan, selalu dibuka dengan “Partangiangan”.  Buka dengan doa, bernyanyi, dan membacakan ayat-ayat. Kadang di situasi itu pula banyak orang “pamer” pengetahuan tentang isi Kitab Suci. Padahal saya sudah bolak-balik memrotes, bahwa Arisan adalah tempat berkumpul KELUARGA, karena pertautan marga dan darah. Sebutlah yang se-darah. Jadi pertemuan bukan karena se-AGAMA.

Dan itulah soalnya, saya malas hadir di Arisan. Tapi kemarin ½ dipaksa Inang ni dakdanahi, saya hadir. Ini demi KEUTUHAN Rumah Tangga. Soalnya, kami tinggal di lantai 2, dan tiap hari harus naik tangga. Jadi agar Rumah tangga utuh, sesekali mengalah, walau akibatnya selalu  perang mulut seusai arisan.

Begitu juga dengan kemarin, nongol lagi sikap isengku. Iseng aja, karena bagi saya doa itu bukan iklan untuk sesama. Menurutku, ah, kita tidak usah sebut pun, Tuhan pasti tahu apa yang ada di pikiran kita.  Sedangkan Pargocci di Samosir bisa “ sok tahu.” Dengarlah pinta-pinta( pitta-pitta) ini…
(Amang pargocci,
Sitili-tili ma ninna sitolo-tolo
Naung so hudok, nunga diboto ho….)

Nah kemarin itu, seperti biasa,  Tuan rumah memimpin doa terkahir. Ini meruapakan sandi, usai berdoa siapa pun tamu bisa pulang. Begini doanya.

“ ….(di edit) Engkau tahu Tuhan, kami selalu rindu akan jamahan tanganmu, maka jamalah segala sesuatunya. Urapi kami semua. Selain itu, secara khusus kuminta padamu, berilah kesehatan kepada anakku yang lagi study di Jerman, putraku dan mantuku yang sedang berwisata rohani  ke Jerusalem. Tak ketinggalan Tuhan, cucuku yang baru dilantik jadi Komisaris Polisi dan sedang bertugas jauh di Sumatera sana. Juga Tuhan, kumohon padamu, sebentar lagi, putri bungsu kami yang akan berangkat ke Inggeris dan kuliah di sana… sertai dia selama di sana Tuhan. Di samping itu dari segala kerendahan hati kami meminta pada kami Tuhan, berkatilah segala usaha kami, khususnya  Pertambangan Batubara yang  di Kalimantan yang sedang dalam proses pembangunan akhir, yang jika berjalan normal akan berproduksi mulai Agustus 2014 ini Tuhan…dst.

(tiba-tiba…Aku nyeletuk. “Masih lama tidak sih doanya? Kayaknya terlalu panjang, dan tidak perlu deh disampaikan semua…!—Tapi  aku tetap dalam sikap mengikuti doa dengan mata terpejam.

Sesaat kemudian,  apakah karena saya menyeletuk, saya tidak tahu, tetapi yang pimpin doa langsung bilang, “Amen.”

Keadaan memang menjadi tidak kondusif. Semua diam. Inanta pardijabu bohina songon harimau ma mamereng au. Tapi aku tidak peduli. Sepanjang jalan, dan hingga sore ini dia tidak mau bissara kepada saya. Kemarin sempat dia bilang, “ Ho mambaen mate do pargaulan…Gabe sisogo di iba di sude inganan.”

Aku diam. Tapi dalam hati aku bergumam, “Doa kok kayak iklan!”—Dipessat pe taho gabe anggota.
***





JUDI DAN SIKAP KAPOLRES


Anggota DPRD bermain judi di Kantor DPRD. Itu terjadi di Kabupaten Samosir. Saya ulangi, 4 Anggota DPRD, tertangkap sedang bermain judi di Kantor DPRD, tapi hingga kini belum ditahan, ntah karena apa. Apakah karena mereka anggota Dewan?

Sebagai orang awam, yang tidak tahu persis prosedur penahanan, maksud saya, apakah mereka yang tertangkap oleh Polisi karena main judi bisa berkeliaran di luar? Karena faktanya, beberapa kali saya saksikan di Jakarta, mereka yang tertangkap main judi pasti langsung digiring ke kantor Polisi dan tidak dilepaskan sampai Hakim memutuskan hukuman, dan baru setelah selesai menjalani hukuman di Lembaga Pemasyarakan bisa “berkeliaran” di tempat umum. Tidak tahu kalau KAPOLRES Samosir, memberi Priveledge kepada ke 4 Anggota Dewan ini, karena salah seorang diantaranya adalah adik Kandung orang No.1 di Kabupaten Samosir.

Dalam hal ini, tentu akan ada yang membela, dengan mengatakan, bahwa Anggota DPRD juga manusia, yang bisa berbuat khilaf. Bisa juga ke-4 orang ini mengatakan, bahwa mereka sedang stress, sehingga perlu hiburan dengan cara bermain kartu—mereka akan berdalih BUKAN SEDANG BERJUDI seperti yang tertera dalam pasal 303 KUHP tapi lagi atau hanya sekedar killing time.

Apapun pendapat yang membela, adalah sah. Okelah, bahwa ke 4-nya adalah manusia—bukan hewan—dan yang bisa saja berbuat khilaf, karena SETIAP MANUSIA bisa khilaf siapa pun dia.  Itulah soalnya, khilafnya ini keterlaluan. Kok bisa berjam-jam main kartu dengan  menggunakan gedung DPRD, mejanya, kursinya dan listriknya—serta, ini berarti,  mereka tidak mengerjakan tugasnya sebagai Anggota Dewan, tetapi harus digaji pulak. Hebat, berjudi digaji Pemerintah. Wakakak. Bisa diusulkan masuk MURI, nih!
DPRD adalah akronim dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, artinya mereka ini dipilih untuk mewakili rakyat—Rakyat Samosir, tetapi bukan untuk mewakili main judi tentunya. Sejak dulu,  judi sudah diharamkan oleh Pemerintah, bahkan di jaman Soetanto menjadi Kapolri, harus dibumihanguskan dari bumi Indonesia, dengan berbagai alasan, termasuk di Samosir misalnya,  banyak orangtua yang  menghabiskan waktunya di meja judi, sementara isteri dan anaknya harus menahan lapar karena “dang adong hepeng—tidak ada uang untuk membeli beras. Bahkan yang paling menyakitkan, banyak orang tua di Samosir lebih mengutamakan modal judi daripada membayar uang sekolah anak.










*** 
Catatan
Equality before the law. 
Jangan gunakan standar ganda pak Polisi.








SULITNYA BERSTATUS SIAMANG


Pengalaman berjualan pancake durian ini membuat hidup menjadi bergairah. Kecuali hati yang senang dan nyaman dan sudah barang tentu tanpa rasa takut, karena tidak mungkin  akan ada orang KPK yang secara diam-diam menyelusup untuk memata-matai kegiatan.
Kemarin, datanglah telepon dari podusennya dari Medan. Halak hita yang selama itni kupanggil  Ito, kendati sebenarnya suaminya, masih bisa kupanggil Tulang, karena beberapa Inangtuaku  dan Inangudaku  semarga dengan suaminya.
“Ito, besok pancake melalui Cargo Garuda, akan tiba di Jakarta, kira-kira pukul 10.00. Dan kalau jalan tidak macet, pancakenya sudah bisa diterima di Depok sekitar antara pukul 12.00-13.00,” ujar si Ito ini dengan serius. “Tunggu aja Ito. Maaf, mungkin jadi terganggu sedikit, karena kiriman jatuh pada hari Minggu. Maaf, iyah Ito…,” tambahnya.
“ Tidak apapa. Saya biasa bekerja total pada hari Minggu. Karena pembeli pun lebih banyak yang  hari Minggu dibanding hari biasa,” jawabku.
“Memang ito tidak ke Gereja kalau hari Minggu? “ tanyanya dengan nada selidik.
“Ah, saya setiap detik ke Gereja Ito. Kalau sekali seminggu terlalu lama. Saya pengagum dan pemuja Tuhan. Karena itu, maka setiap detik saya menjumpainya di Bait Allah,” ujarku lagi. “Tapi, haha ha, nantilah kita bissara tentang itu  kalau ito dan Lae jadi datang di Jakarta,” tambahku.
“ Sebentar lagi akan saya sms no Hp SIAMANG yang mengantar ke sana Ito. Soalnya yang mengirim sebelumnya tidak bisa. Kata dia,  di rumahnya sedang arisan. Jadi, aku minta tolong pada SIAMANG, untuk mengambil dari Bandara dan mengantar langsung ke Depok. Kalau SIAMANG  itu menelpon tolong HPnya diangkat iyah Ito!” pintanya.
“SIAMANG?” tanyaku terkejut. Soalnya baru sehari sebelumnya saya menonton film Tarsan di Global TV, yang pemerannya ada juga SIAMANG.
“Ya, Ito. SIAMANG juga sudah mengOke khan, dan tidak ada masalah,” jelasnya.
“Janganlah ito. Apa tidak ada manusia yang bisa ito cari untuk mengantar, mengapa harus SIAMANG?” tanyaku lagi, dengan nada serius. “Lagi pula, aku takut, takut sekali dekat dengan SIAMANG. Dari dulu  aku takut!  karena Tahun 1970 pernah kubaca di SIB, ada SIAMANG perempuan yang menyandera pria selama bertahun-tahun di hutan, dan kemudian dijadikannya  ‘suami’ hingga SIAMANG perempuan iitu melahirkan,” kataku menambahkan.
“Ah ito ini, bercandanya selalu….Itu haha dolikku. Kami tiga bersaudara. Hahadolikku inilah siakkangan. Ito pasti tau, sebagai anggi boru,  saya memanggilnya AMANG. Dan tentu untuk menunjuk pada dirinya kutambahlah SI, jadi SIAMANG lah, aku memanggilnya!” jawabnya yang diikuti dengan tawanya. Tergelak-gelak dia.
“ Oh, itunya? Jadi maksud ito bukan bodat nabalga—Monyet besar? Ah, maafkanlah aku ito. Yah, aku terima pun  kalau dia menelpon. Tapi tolong bilang sama SIAMANG, unang sampe di garomak au?!” Pintaku sedikit serius.
Dari seberang sana, ito itu tertawa ngakak. Saya pun ngakak. Kami sungguh-sungguh ngakak tanpa beban. Biarlah urusan Capres urusan para Tim Sukses.
***
(Selamat hari Minggu untuk teman-teman.)

Selasa, 27 Mei 2014

Kangen ke mantan pacar, Leona



KANGEN KE MANTAN PACAR, LEONA

Putih itu putih. Tapi belum tentu bersih. Mungkin ada kuman melekat di dalamnya yang tidak terlihat oleh mata. Hitam itu yah hitam,  dan mungkin saja bersih dan tidak melekat noda apa pun. Jadi, putih dan hitam adalah soal warna dan penyebutan untuk membedakannya antara satu dengan yang lain.

Penyebutan putih dan hitam, sudah menjadi kesepakatan umum. Ntah bagaimana dulu kesepakatan itu dimulai dan siapa yang lebih awal menyebutkan tentu bukan hal yang mudah untuk menelusurinya. Tapi ini pun berlaku bagi yang mengerti. Karena orang Inggeris yang mendengar itu, belum tentu tahu maksudnya, kecuali ada yang menerjemahkannya menjadi White and Black.

Putih secara umum, selalu menjadi lambang Kebersihan, Kesucian, Ketulusan. Jadi hanya sebuah lambang. Itu umumnya. Tetapi bagi masyarakat tertentu, putih diasosiasikan sebagai sebuah lambang keburukan. Maka di daerah itu, jika ada cerita tentang KUNTILANAK, maka pakaian yang digunakan, termasuk warna bedak di wajahnya adalah putih. Mungkinkah ini hanya sebagai pembeda, agar si Kuntilanak bisa terlihat jelas di lingkungan yang gelap? Dan secara tidak langsung, mereka juga ingin menyampaikan, jika bertemu dengan yang “putih” di kegelapan, hindari! Mengapa? Karena kuntilanak amat doyan darah segar untuk menyambung hidupnya, maka siapa pun manusia yang lewat akan dilenyapkan dengan cara mereguk darahnya.

Mengenakan pakaian putih dan hitam, ini barangkali hanya soal selera. Tetapi kalau kemudian warna pun menjadi bagian dari alat – alat kampanye, tidak ada masalah. Misalnya dalam Pilpres ini, Capres-capres, menjadi kesemsem dengan warna putih. Konon inilah cara untuk menyampaikan secara tidak langsung kepada seluruh calon pemilih agar memilih mereka karena; memiliki Kebersihan, Kesucian, dan Ketulusan untuk mengemban HATI NURANI RAKYAT. Tapi apakah nantinya setelah terpilih akan bekerja mengemban hati Nurani Rakyat?

Memang siapa pun tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi ke depan. Jika pun seseorang akan mengatakan akan begini atau begitu, lebih pada sebuah harapan. Dan sebut saja itu sebuah ramalan. Atau supaya lebih positif, sebutlah itu sebuah perkiraan, yang belum tentu terjadi. Maka setiap kali para Capres dan tim suksesnya mengatakan, “Kalau saya terpilih jadi Presiden, negeri ini akan makmur…dst.” Tapi apakah akan begitu? Coba kita simak :

“Bersediakan engkau Sutinem, menerima Sukimin ini menjadi suamimu, dan mendampinginya dalam suka dan duka, serta hanya kematian yang bisa memisahkan kalian?”

“Bersedia dan saya berjanji!”  ujar Suminem.

“Engkau Sukimin. Bersediakan engkau menerima Sutinem ini menjadi isterimu dan mendampinginya dalam suka dan duka, serta hanya kematian yang bisa memisahkan kalian?”

“Saya berjanji dan bersedia,” tegas Sukimin.

Dan UU No.1 Tahun 1974 pun dibacakan, bahwa Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara Pangoli dan Oroanna untuk membentuk keluarga bahagia.—Tetapi, lihatlah Farhat Abas yang meninggalkan Nia Daniati, seperti Sukimin yang raib meninggalkan Suminem, hanya karena (ternyata) baru ketauan, ketiak Suminem bau. Dan masih banyak lagi yang meninggalkan suami atau isterinya, karena alasan yang berbeda yang barangkali  saja memang sangat sulit di atasi karena masing – masing yang memiliki ego, ego yang sangat tinggi tentunya, yang sehingga harus…

(“Mengapa harus jumpa,
Jika hanya untuk pisah…”)—ujar   Leona , mantan pacar,  seorang penyanyi yang dulu diorbitkan oleh Eddy Sud, dan sempat beberapa kali tampil di Aneka Ria Safari.
***
(depok, 28.05.2014)

D.E.N.G.A.N


D.E.N.G.A.N

dengan lantang kau ubah senyuman menjadi kemurkaan
dengan mudahnya kau balik,  rasa damai menjadi perang
dengan sayatan lidahmu, kau ubah cinta kasih menjadi kebencian
dengan kekuatan uangmu, kau pisahkan dahan dari batangnya,
dengan kekuasaanmu, bahkan, daun-daun pun tidak lagi melekat pada rantingnya...


suara lantangmu pekikkan, “Inilah Aku…”
dan itulah kau sebut KOALISI
Yang sesungguhnya tidak mengakar pada hati
tetapi lebih pada kepentingan sesaat
hanya dan untuk menunjukkan kekuatan dan kekuasaanmu : INILAH AKU


sesungguhnya di keheningan, engkau berteriak membelah langit
bahkan sampai menggugat Sang Khalik, Tuhan, mengapa harus kulakukan ini…?”
tetapi di keramaian....,
ini dan demi mengikat KOALISI yg kelak juga akan hancur-lebur
ketika tujuan tidak lagi searah
dan kepentingan sudah mulai berubah haluan

karena

telur mungkin sudah menetas menjadi ayam
atau sudah berubah menjadi burung yang telah mampu mengarungi angkasa
atawa mata dan mata hati sudah mulai bisa memilah
manakah emas, manakah Loyang
manakah nasehat manakah hujatan
manakah kasih sayang manakah tipuan


kini, hari ke hari
kegalauan hati terus membelitmu
uang yang tadinya mampu membeli tiket kebaikan
Telah kau salah gunakan menghajar dan menghujat orang-orang yang tadinya melindungi dan membesarkanmu….
mereka itu, tidak mampu bahkan hanya untuk mengeluarkan sebaris kalimat melawanmu
sebab, siapa juga yang mampu melawanmu saat ini?


D.E.N.G.A.N

dengan ini kukatakan padamu,
kendati arang bisa kau cuci bersih
tapi tidak mungkin berubah warna menjadi putih
t'lah kau patahkan arang
tinggalkan luka nan dalam
biarlah setiap air yang ke luar dari mata
membuat tumbuh tunas-tunas masa depan
yang bangkitkan jiwa dan raga
bergeliat menuju masa depan…!
***


Minggu, 11 Mei 2014

Saya koruptor, Dik



DIALOG MINGGU

SAYA KORUPTOR, DIK !
JUMAT lalu, bersama dua orang teman kami berangkat mengunjungi keluarga, di Jakarta Timur sana. Biasalah, ntah ini takdir atau sejenisnya, biasanya, saya selalu diingat oleh kawan-kawan, kalau dirinya dalam situasi sulit, atau sedang membutuhkan bantuan. Saya, kendati secara umum tidak bisa membantu dengan materi (baca : uang) setidaknya selalu suka-cita untuk mencari jalan ke luar. Ini sudah semacam sumpah, misalnya dengan mencari siapa yang bisa meminjamkan uang, meski harus pakai bunga. Saya sendiri, tidak berbakat meminjamkan uang dengan menambahkan bunga. Tidak tega.
Sesampainya di sana, biasalah, sebagai basa-basi, kami bincang sana-sini mulai dari Rahmat Yasin yang tertangkap tangan, Caleg yang kalah, KPU yang belum bekerja professional, dan kabar burung yang mengatakan, ada seorang Caleg yang menang dengan cara mencuri suara teman separtainya, sehingga temannya itu, yang semula sudah diketahui masyarakat umum sebagai pemenang, akhirnya menjadi kalah.
Ntah siapa yang memulai, saya lupa. Pembicaraan masuk ke ranah ke keyakinan, dan bagaimana mendapatkan Surga dan Neraka. Awalnya saya tidak terlalu terlibat, karena akhir-akhir ini, saya mulai khawatir tentang diri saya, yang selalu dirundung “KETAKUTAN”. Takut, karena ternyata, selama 55 tahun, jika ditelaah, segudang dosa telah melilit jiwa saya yang kerontang.
“Jangan mau kalau diajak jadi Kristen, Dik. Siapa tahu ada yang mengajak, tolak saja,” kataku spontan.
“Maksudnya, bagaimana Ndan?” tanyanya. Dia selalu memanggilku dengan Ndan, maksudnya Komandan.
“Sangat sulit menjadi Kristen. Hampir tidak bisa dikerjakan. Pokoknya sulit. Karena Kristen itu harus mengikuti Kristus, Jesus dari Nazareth,” jawabku.
“Bukannya Ndan adalah seorang Kristen?” Tanyanya.
“Saya Kristen? Bagaimana mungkin saya seorang Kristen? Menjadi Kristen itu adalah hal yang tidak mungkin bagi saya,” ujarku lagi.
“Ah, Ndan ini sukanya bercanda saja. Tidak pernah berubah…, ” ujar dia sambil senyum. Sementara ipar saya di sebelah sana, wajahnya terlihat tegang. Mungkin tidak suka dengan omongan saya, bahkan bisa saja dianggapnya sebagai sebuah sindiran atau pelecehan atau sejenisnya, karena setahunya, ayahku adalah seorang Penatua, dan hampir seluruh Keluarga Besar sangat rajin ke Gereja, bahkan akhir-akhir ini ada kecenderungan, narsis dulu depan rumah sebelum berangkat, meng upload gambar ke FB, twitter, Instagram, dengan menambahkan, “OTW ke Gereja”, agar orang tahu tentunya, mereka adalah orang beriman.
“Jadi Kristen itu mustahil, Dik. Atau hal yang sangat sulit untuk dijalankan. Saya tidak mampu, maka sulit menyebut diri ini menjadi seorang KRISTEN. Karena pengakuan menjadi Kristen namun tidak menjalankan perintah Kristus, yaitu Jesus dari Nazareth yang dilahirkan Maria itu, sama saja dengan ANTIKRISTUS,” paparku.
“Maksudnya, Ndan?”
“ Kristus, sangat marah terhadap Koruptor. Dan saya adalah seorang Koruptor,” kataku dengan nada tegas, untuk meyakinkannya.
“Hah?! Darimana Ndan ini bisa menyebut diri Ndan sebagai seorang Koruptor?”
“ Saya seorang Koruptor. Itu pasti. Uang Tuhan telah saya korupsi selama sekian puluh tahun. Saya tidak pernah memberikan perpuluhan dengan benar…”
“Masa sih, hanya karena tidak memberi perpuluhan terus dilabel bukan seorang KRISTEN dan ANTI KRISTUS pula?”
“Itu hanya salah satu. Yang lain, misalnya. Atau kita sebutlah yang paling akrab didengar di seluruh Dunia, ‘KASIHILAH SESAMAMU’. Bagimana saya disebut mengasihi sesama, jika celana dan baju saya masih memenuhi lemari, sementara di tempat lain banyak anak manusia ciptaan Tuhan yang kedinginan karena tidak memiliki pakaian…. Di rumah sering makanan terbuang karena basi atau berlebihan, sementara di tempat lain, banyak yang meringis karena kelaparan. Apakah saya masih pantas disebut KRISTEN?”
“Ah, Ndan ini ada-ada saja…!” katanya sambil tersenyum.
“Baiklah, saya akan tuturkan satu cerita tentang Jesus Kristus, untuk menunjukkan bahwa saya seorang ANTI KRISTUS, karena perilaku saya, jauh daripada Dia. Boleh?”
“Silahkan, Ndan!” jawabnya.
“Satu ketika, Jesus melakukan perjalanan yang diikuti oleh murid-muridnya. Pada perjalanan itu, mereka melihat seorang musafir yang mengambil air dari bantaran kali dengan kedua telapak tangannya. Melihat itu, Jesus melemparkan cangkirnya kepada musafir itu. Pada perjalanan berikutnya, mereka bertemu dengan musafir lain, yang menyisir rambutnya dengan jari-jari tangan kanannya. Spontan Jesus melemparkan sisirnya. Padahal, hanya cangkir dan sisirlah harta Jesus pada perjalanan itu…”
“Wah. Luar biasa, Ndan” ujarnya.
“ Nah. Banyak hal yang bisa saya ceritakan tentang Dia, sebagaimana tertulis di Injil yang terkodifikiasi dan yang berserakan di sana-sini, bagaimana Jesus itu selama di Dunia, sebelum naik ke Surga. Tapi intinya saja saya sampaikan sekarang, karena waktu kita yang sempit. Begini. Kristen kah saya, yang jika membantu orang lain, masih amat sangat berharap untuk dipuja-puja, dan apa yang kusumbangkan masih harus diketahui dunia? Kristenkah aku, jika tiap saat masih khawatir akan hari esok, yang masih mengaku jujur padahal masih suka menipu dan berbohong? Kristenkah saya jika harta yang kuperoleh adalah hasil korupsi, tapi masih patentengan mengaku sebagai orang benar dan berlakgak bagai pahlawan? Hah?! Sulit Dik, menjadi Kristen itu. Maka sebaiknya, kalau ada yang mengajakmu, jangan mau! Tapi kita tutup saja pembicaraan ini, karena, sekali lagi, hidup menjadi KRISTEN dan berprilaku seperti Kristus, Jesus dari Nazareth itu, TERLALU SULIT. Kapan-kapan kita teruskan,” Kataku menutup, dan mengalihkan pembicaraan tentang,apakah keluarga yang dikunjungin bisa meminjamkan uangnya atau tidak.
***
Selamat hari Minggu.
(Kebahagiaan Raya, 11/5/2014)
berdua dengan putriku, Hillary V.Putrilaris